Showing posts with label visit jateng. Show all posts
Showing posts with label visit jateng. Show all posts

Monday, December 16, 2013

Misteri Keberadaan Pasar Setan Di Lereng Gunung Merapi

Misteri Keberadaan Pasar Setan Di Lereng Gunung Merapi

Fenomena keberadaan pasar setan atau pasar Bubrah sebenarnya telah banyak dikenal oleh penduduk sekitar atau oleh para pendaki gunung. Terlepas dari unsur misteri yang beredar tentang keberadaan pasar setan ini maka sebenarnya dapat juga ditelaah secara lebih realistis. Tulisan ini dibuat semata-mata agar kita selalu harus tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian kita selama mendaki gunung termasuk apabila berada di daerah yang disebut sebagai pasar setan itu.


Lokasi Keberadaan Pasar Setan
Jalur pendakian di suatu gunung biasanya dipilih berupa medan yang mudah dengan jalur yang tidak terlalu curam. Dalam hal seperti ini kadang ada satu jalur yang akan melewati punggung suatu bukit dengan kondisi yang agak datar. Daerah seperti ini biasanya akan dilewati pendaki sekaligus terkadang dipilih untuk tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di Daerah punggung bukit inilah yang secara alami biasanya menjadi lokasi keberadaan pasar setan misterius tersebut. Punggung bukit ini yang sering berupa bentangan menyerupai lapangan yang relatif datar. Dengan demikian lokasi seperti ini cocok untuk dijadikan tempat mendirikan kemah dengan menggunakan perlindungan dari semak-semak atau batu besar supaya terhindar dari angin kencang yang bertiup.

Karakteristik lain yang menjadi ciri keberadaan pasar setan adalah daerah ini sudah tidak memiliki banyak pepohonan tinggi dan berbatang besar. Pada daerah ini hanya tinggal semak-semak perdu dengan ketinggian kurang dari dua meter. Dengan demikian angin sangat terasa sekali mengenai tubuh manusia yang sedang berada di daerah ini.

Pada lokasi punggung bukit seperti ini hampir selalu dipastikan pada waktu malam merupakan tempat angin bertiup kencang. Angin malam biasanya akan bertiup dari bawah melewati lereng-lereng secara cepat. Pada saat melewati punggung bukit ini akan bertiup dan memberikan fenomena suara yang berisik. Hal seperti inilah yang kemudian membuat sensasi keriuhan yang dianggap sebagai suara menyerupai suasana pasar. Dengan demikian daerah inilah oleh banyak orang dianggap sebagai daerah pasar setan, karena pasar yang sebenarnya tidak terlihat dan hanya suaranya saja yang terdengar.

Di lokasi pasar setan sering dikabarkan memakan korban orang atau pendaki gunung meninggal dunia. Hal ini sebenarnya dapat mudah dimengerti karena perjalanan mendaki gunung biasanya akan memerlukan tempat untuk beristirahat sementara. Salah satu pilihan orang untuk beristirahat kemungkinan besar adalah dipilih daerah di sekitar pasar setan ini. Tentu saja dipilih hal ini karena relatif sudah dekat dengan puncak, daerah ini relatif datar sehingga mudah untuk mendirikan tenda atau sekedar berlindung di bebatuan. Pada saat beristirahat seperti inilah sering terjadi kasus orang kedinginan dan menderita hipotermia misal karena cuaca di atas yang relatif ekstrim seperti turun hujan besar dan kabut gelap. Dengan demikian dapat dimengerti jika banyak korban meninggal dunia yang berlokasi di daerah pasar setan.

Demikian juga kalau ada pendakian yang memaksa kondisi darurat ada yang jatuh kecelakaan atau yang lainnya, maka tempat yang dipilih untuk menunggu sementara adalah di pilih di daerah sekitar pasar setan ini. Dengan berada di tempat ini maka penyelamat relatif dapat mudah mencari dan menemukan korban sehingga tindakan evakuasi dapat segera ditangani.


Orang melakukan pendakian gunung sangat sering melakukannya pada malam hari dalam rangka tujuan melihat matahari terbit dari puncak gunung. Selain itu jika pendakian dilakukan malam hari maka udara juga tidak terlalu panas oleh terik matahari. Perjalanan seperti ini dapat diatur oleh pendaki yang berpengalaman untuk dapat mencapai puncak sebelum matahari terbit. Namun kadang ada juga pendaki yang naik sore hari sehingga dapat sampai puncak sebelum pagi untuk beristirahat di tengah perjalanan. Tempat perjalanan seperti ini biasanya juga dipilih daerah sekitar pasar setan.

Untuk pendakian yang dilakukan pada siang hari. Tentu saja akan memerlukan waktu untuk menginap di atas gunung. Biasanya mereka akan membawa peralatan tenda untuk camping cukup lengkap. Hal ini karena mereka perlu meluangkan waktu menginap semalaman sebelum melanjutkan pendakian ke puncak pada pagi harinya. Lokasi daerah penginapan yang dipilih pun di daerah sekitar pasar setan.

Jadi memang wajarlah kalau keberadaan pasar setan ini menjadi terkenal karena hampir banyak orang dan pendaki gunung selalu melewati daerah ini khususnya saat perjalanan pendakian malam hari.

Keangkeran Pasar Setan

Dalam banyak cerita, biasa dikabarkan cerita tentang penampakan sosok menyerupai orang yang berada di lokasi pasar setan. Bahkan saya menemukan satu blog yang memuat cerita tentang fenomena pasar setan di gunung Sumbing oleh penulis yang mengaku dari tim mapala satu daerah.

Di rute pendakian di gunung Sumbing setelah lokasi Tanjakan Setan ternyata saat beristirahat diketahui menampakkan keramaian seperti pasar. Di sana bahkan kemudian dijumpai sesosok jasad bersemedi yang sudah membeku yang terlihat oleh seluruh anggota. Walaupun setelah akan diabadikan dengan kamera, hal ini tidak berhasil. Di lokasi berdekatan bahkan mereka menjumpai beberapa sosok lima sosok wanita menempel di perbukitan yang terlihat jelas oleh beberapa anggota rombongan.

Suasana mistis yang sama kemungkinan besar juga pernah dihadapi oleh banyak pendaki di lokasi jalur pendakian gunung yang lain. Misal di gunung Slamet, lokasi pasar bubrah yang ada bahkan cenderung lebih terkesan angker. Untuk jalur pendakian dari Kutabawa, harus melewati pasar bubrah yang cukup luas sebelum mencapai daerah puncak gunung.

Keangkeran seperti ini dapat saja dipahami karena suasana saat itu mendukung, kelelahan pendaki setelah berjalan jauh, kegelapan malam dan faktor kondisi alam akibat tekstur gunung, seringkali menyebabkan terjadinya halusinasi. Dari sisi alam ghaib, memang tidak dipungkiri bahwa bisa jadi jin akan muncul menampakkan diri untuk menggoda dan mengganggu iman para pendaki. Toh kita memang wajib beriman pada keberadaan hal-hal yang ghaib sepanjang tidak sampai membawa ke kemusyrikan.


Suasana angker di daerah pasar setan seringkali ditambah akibat keberadaan bekas nisan atau monumen prasasti untuk memperingati meninggalnya pendaki di lokasi itu. Untuk diketahui bahwa di lokasi itu, sebenarnya tidak ada kuburan. Jadi kalau ada pendaki yang meninggal dunia maka selalu akan dibawa turun untuk dimakamkan oleh pihak keluarga di daerah asalnya atau tempat lain. Kalau ada bentuk semacam kuburan, maka itu sebenarnya hanya penanda saja atau lebih berupa prassti peringatan. Tetapi memang keberadaan hal ini menjadi lokasi terlihat lebih menyeramkan.

Lokasi pasar setan di siang hari

Pada siang hari, keberadaan pasar setan akan tidak terasa oleh pendaki. Hal ini karena keberadaan sinar matahari yang mampu menerangi seluruh daerah. Pendaki umumnya lebih terpukau pandangannya oleh pemandangan alam yang tersaji luas. Keindahan alam seperti ini betul-betul akan menarik perhatian dan dapat melupakan keberadaan pasar setan yang ada sebelumnya.

Bayangan keangkeran di siang hari biasanya akan musnah, karena di siang hari kondisi angin relatif lebih kecil sehingga suara ribut pun menjadi tidak terdengar. Saya yakin kalau mengalami gejala angin ribut di lokasi itu pada siang hari, maka fenomena suara-suara pasar setan pun akan terdengar kembali dalam nuansa yang berbeda.

Walau bagaimanapun di siang hari di lokasi pasar setan ini, kewaspadaan dan pantangan untuk selalu menjaga tingkah laku kita tetap harus dilakukan. Sering tingkah laku yang kelewatan atau sikap yang sombong membuat kita lalai, padahal lokasi jalur pendakian sering kali menyesatkan atau rawan dengan kejadian kecelakaan. Oleh karena itu kita tetap selalu menjaga konsentrasi dan perhatian kita selama pendakian.

Pasar adalah tempat untuk aktivitas jual beli. Kalau ativitas jual beli dilakukan di ata gunung maka bisa jadi dapat disebut sebagai pasar. Di puncak gunung Lawu, khususnya saat hari minggu atau malam satu syura, ternyata ada juga orang yang melakukan aktivitas berjualan di puncak gunung Lawu. Beberapa penjual makanan ringan dan bakso menjajakan dagangannya bagi para pendaki yang naik ke puncak dalam jumlah yang relatif banyak. Sosok para penjual dan pembelinya jelas manusia karena mereka bukan setan yang bergentayangan.

Omong-omong soal pasar setan di gunung ini, ada satu gurauan kecil juga yang menyindir kondisi sosial masyarakat sekarang. Mitos keberadaan pasar setan di suatu gunung dijamin tidak akan hilang. Hal ini baru akan hilang kalau sudah ada minimarket franchise 24 jam atau supermarket yang berani buka di sana. Kalau sudah ada ini maka dijamin keberadaan pasar setan akan hilang.

Pasar setan diduga bukan satu fenomena yang benar-benar ada. Fenomena ini muncul karena kondisi daerah gunung yang mungkin menyebabkan terjadinya suasana yang terasa menyerupai suasana pasar sehari-hari. Wallahu alam. Meskipun tidak ada bukti fisik kuat yang mendukung keberadaan pasar setan ini, hal ini dapat kita gunakan untuk selalu mengingatkan para pendaki gunung agar senantiasa menjaga perilaku dan kehati-hatian selama perjalanan pendakian, baik saat sedang mendaki ataupun dalam perjalanan pulang.

Misteri Hantu Noni Belanda di Lawang Sewu

Lawang Sewu, gedung tua yang berada di pusat Kota Semarang ini sebelum zaman penjajahan Jepang adalah kantor perkereta-apian yang dikelola pemerintah kolonial Belanda.

Cerita misteri munculnya arwah noni Belanda ini berawal ketika tentara Jepang mulai masuk menyerbu gedung, dan menjadikannya sebagai salah satu basis peristirahatan tentara Jepang.



Kala itu, terjadi pemerkosaan tentara Jepang terhadap sekitar 20 noni Belanda. Kabarnya semua noni ini terdiri dari 10 noni perawan dan 10 sudah nikah.

Setelah puas menyalurkan hasratnya, para tentara Jepang memenggal kepala 20 noni tersebut. Dari situ, mistis sering munculnya noni di sekitar Lawang Sewu berawal.

Pengalaman Mistis

Kemunculan arwah noni Belanda ini salah satunya dialami oleh Toha (46) warga Kampung Prembaen, Semarang Tengah, Kota Semarang. Toha yang mempunyai hobi memancing di sungai sekitar Lawang Sewu ini sering melihat penampakan sosok noni Belanda.

Dengan rambut panjang terurai dan berbusana long dress warna putih, sosok noni Belanda itu terlihat mondar-mandir di sekitar Lawang Sewu.

“Dia tidak mengganggu hanya menampakkan diri. Mondar-mandir dengan parasnya yang cantik namun penuh dengan darah di mukanya dan menebar senyuman yang sangat mistis dan menakutkan… Ya, menakutkan memang… tetapi mau bagaimana lagi?,” tutur Toha, Minggu (13/10/13).


Sosok wanita Belanda dengan muka berdarah-darah, bergaun putih dan berambut panjang di Lawang Sewu (Pict: Ilustrasi dari “I wouldn’t go in there – Lawang Sewu, Basement Ghost” – NatGeo Channel)

Loji sejak era Belanda tersebut, kini lebih dikenal dengan istilah “Lawang Sewu” atau “pintu seribu” karena seakan-akan ada ribuan pintu dan jendela tersebar di mana-mana.

Sebagai gambaran, lantai dua di bagian belakang gedung memiliki sekitar 20 ruangan berjajar yang masing-masing memiliki sebanyak 6 pintu.

Jika “lawang” bisa diartikan sebagai pintu atau pintu yang menyerupai jendela besar, maka diyakini seakan-akan gedung tua Lawang Sewu memiliki 1000 pintu.

Mitos Seribu Pintu dan Ruang Bunker Bawah Tanah

Pada kenyataannya dari berbagai pengalaman para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengunjunginya, saat menghitung jumlah pintu selalu tidak akan menemukan jumlah sampai 1000 pintu atau 1000 lawang.

Hal ini terjadi karena memang istilah kata “sewu” atau “seribu” itu, hanyalah kata kiasan yang mengartikan banyaknya pintu-pintu atau jendela-jendela besar tersebut yang seakan-akan jumlahnya seribu.

Hingga kini, istilah tersebut diyakini sebagai mitos jika satu pintunya merupakan pintu mistis sebagai tempat jalan masuk arwah para penunggu gedung Lawang Sewu tersebut.

Selain rahasia pintu seribu, juga ada bagian lain dari Lawang Sewu yaitu bunker, atau ruang bawah tanah. Bungker ini sebetulnya adalah tempat penyimpanan atau persediaan air bersih pada Zaman Belanda.

Tak heran, jika sampai saat ini bangunan tersebut terus tergenang air dan harus dipompa keluar agar air tidak membanjiri objek wisata utama di Lawang Sewu tersebut.

Saat pertama turun, kita akan ditunjukan tempat yang angker dan penampakan-penampakan yang terjadi. Di ruangan pengap tersebut, terdapat beberapa lampu temaram yang masih terlihat baru. Konon dipasang lampu karena banyaknya orang yang kesurupan di tempat itu.


Saat Jepang masuk Indonesia

Pada masa Jepang, bungker itu dijadikan penjara dadakan untuk menahan para pejuang dan tentara Belanda yang tertangkap.

Di ruang bawah tanah itu juga terdapat 16 kolam di setiap ruangan, delapan ruangan bagian kanan dan delapan ruangan bagian kiri.

Selain itu, tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan pembantaian tentara Belanda. Termasuk menyiksa beberapa noni Belanda yang dilakukan oleh tentara Jepang.

Penjara ini pada masanya dulu sering disebut sebagai penjara jongkok. Lima sampai sembilan orang dimasukan dalam sebuah kotak sekitar 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi sekitar 60 cm.


Lalu mereka disuruh jongkok berdesakan, kemudian kolam tersebut diisi air hingga setinggi leher. Kemudian kolam tersebut ditutup terali besi sampai mereka semua mati.

Tak hanya penjara jongkok, di ruang bawah tanah tersebut juga terdapat penjara berdiri. Lima sampai enam orang dimasukan dalam sebuah kotak berdiamater sekitar 60 cm x 1 meter, mereka berdiri berdesakan kemudian ditutup pintu besi sampai mereka semua mati.

Namun jika dalam seminggu mereka yang dipenjara jongkok dan penjara berdiri masih hidup, maka kepala mereka dipengggal dalam ruangan khusus. Mereka menggunakan bak pasir untuk mengumpulkan mayat tersebut.

Seluruh mayat dibuang ke sebuah kali kecil yang terletak di sebelah gedung tersebut. Menurut cerita beberapa warga lama disekitar, kali itu bernama Kali Garang, yang mana “garang” berarti begis dan kejam.

Kata-kata garang dipilih karena pada masa penjajahan Belanda dan juga pada masa penjajahan Jepang dikala itu, sering terjadi penyiksaan sehingga warna kali menjadi merah karena banyaknya darah yang mengalir di kali tersebut.

Saat pertempuran lima hari di Semarang, mayat-mayat tersebut dijadikan satu dalam delapan ruangan di sebelah kiri, kemudian ruangan tersebut ditembok untuk menghilangkan bau mayat. Wih, memang garang… dan pastinya menyeramkan!

Friday, September 13, 2013

Pantai Pangandaran

Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti:
• Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama
• Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman
• Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih
• Tersedia tim penyelamat wisata pantai
• Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai
• Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.

Dengan adanya faktok-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang di Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam: berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jet ski dan lain-lain.
Adapun acara tradisional yang terdapat di sini adalah Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.

Event pariwisata bertaraf internasional yang selalu dilaksanakan di sini adalah Festival Layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa kita saksikan pada tiap bulan Juni atau Juli.

Fasilitas yang tersedia:
1. Lapang parkir yang cukup luas,
2. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif bervariasi,
3. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer,
4. Gedung bioskop, diskotik
5. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata,
6. Bumi perkemahan,
7. Sepeda dan ban renang sewaan,
8. Parasailing dan jetski.

TIKET MASUK OBJEK WISATA PANGANDARAN
a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 3.000,-
b. Sepeda Motor Rp. 7.000,-
c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 28.000,-
d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 35.000,-
e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.700,-
f.  BUS Kecil Rp. 80.000,-
g. BUS Sedang Rp. 104.000,-
h. BUS Besar Rp.169.000,-

Monday, March 18, 2013

Pantai Marina Semarang

                      
 
     Semilir angin dan suara deru ombak menyertai petualangan kali ini, setelah mencoba beberapa waktu untuk sedikit bisa memprediksi sunset pantai di kota Semarang. Walau tak mendapatkan sunset yang menarik, minimal dapat bersantai dipinggir pantai yang indah dan menarik. Pantai Marina terletak di ujung utara kota Semarang bersebarangan lurus dengan Pantai Maron yang berdekatan dengan Bandara Internasional Ahmad Yani dan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita serta kawasan wisata PRPP. Walau berbeda dengan pantai pasir pada umumnya, Pantai Marina juga menyimpan keindahan tersendiri. Keindahan yang tiada duanya di kota Wingko Babat Semarang.


Selain pantai yang menarik, pantai Marina Kota Semarang juga banyak fasilitas yang dapat digunakan oleh para Petualang. Misalnya area balapan mobil mainan yang berada di sebelah utara, penyedia ban renang yang berada di dekat tiket masuk, pantai pasir walaupun tidak seluas pantai Maron namun cukup mengobati para Petualang yang sengaja untuk berjalan-jalan dengan kaki kosong di pantai, beberapa gazebo yang berjajar di pinggir pantai, beberapa kursi yang memang disediakan untuk lebih menikmati keindahan alam pantai. Kalaupun tidak mau duduk di kursi, breakwater atau tembok pantai dapat menjadi alternatif yang paling pas dan nikmat untuk sekedar duduk-duduk dan berfoto ria bersama kawan.

Untuk mencapai Pantai Marina Semarang tidak lah sulit, hanya memang perlu sedikit usaha apalagi yang belum terbiasa dengan jalan Semarang. Dari arah Kabupaten Kendal, silakan untuk menuju ke arah timur memasuki bundaran kali banteng (dekat dengan museum ranggawarsita), lalu menuju jalan yang ke arah Surabaya (jalan RE Martadinata) – SPBU belok kiri – PRPP (Supermarket Giant) – Pantai Marina. Kalau dari arah Demak, bisa masuk ke kota Semarang atau Menuju jalan arteri (Jalan RE Martadinata) – arah PRPP – Marina. Jalanan yang mudah dilalui berbagai macam kendaraan menjadi nilai tersendiri dari pantai Marina, dari roda dua hingga bus ukuran bisa masuk ke area pantai Marina Semarang.

Saturday, February 2, 2013

Karaton Kasunanan Solo

Karaton Kasunanan Solo



Karaton Kasunanan/Karaton Solo Hadiningrat dibangun tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono 11.
Di halaman istana terdapat menara Panggung Sanggabuwana yang sering disebut sebagai tempat bertemu Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Di dalam Karaton terdapat galeri seni dan museum dengan pusaka-pusaka kerajaan, tempat kereta dan kusirnya, senjata kuno dan keris, serta benda-benda antik lainnya.
Buka:
Setiap hari jam 09.00 - 14.00 WIB, kecuali Hari Jumat.

Friday, February 1, 2013

Nusakambangan Island
Besides its natural uniqueness that becomes landmark this island is also widely known as prison for criminals. Attraction of ex prisoner is a potency to attract tourists visit to this island, not to mention that there is historical heritage which is kept in this island. There is artillery monument and castle (Holland's government heritage).
It is located in the southern part of Cilacap city and separated from Java Island by Segara Anakan. Administratively this island is under Cilacap region, but Nusakambangan Island is under the responsibility of Department of Justice and Human Right. Other tourism objects in this island are: Ratu Cave, Permisan Beach, Pasir Putih Beach.

Segara Anakan Beach
Segara Anakan is located behind Nusakambangan Island, CIlacap Regency. Segara Anakan is a unique Laguna in southern beach Java Island, with ecosystem of mangrove that has composition and the most complete forest structure in Java Island. Various components of biological resource such as plants and animal habitation, land and water landscape interact each others and make a natural ecosystem.
Segara Anakan is a part of Nusakambangan which is united into one spectacular spot that worth to be seen. The landscape of the land and its uniqueness offer an unforgetable and amazing view. It is guarantee that visitors will enjoy the beautiful and uniqueness of the island.

Pendem Fortress
Pendem Fortress complex in Dutch called "Kusbattery op de lantong te Cilacap." It is surronded by trench with wide 12 m, and there are some part of the building that can be seen untill up to this moment. Beside that trench there is also wall around this location completed with reconnaisance hole which is also fucntion as hole for shooting. This Benteng Pendem is unique fortress, because almost all of phisical part of this fortress are hidden in the ground, with wide ± 6.5 ha. In the fortress there is a number of buldings which is built in the ground.


From numbers which is written on the building, it can be concluded that the building was built in1861-1879. Parts of the fortress are: barrack, defense, crypt/ tunnel, ammunition room, prison, space weapon, accomodation room, health room, well, fortress building, warehouse and kitchen building, stockhouse buiding, barrack buiding, chamber officer, surveillance building, trench. Administrativelly this building is located in Cilacap village, South Cilacap District in Teluk Penyu region ± 300 m western Teluk Penyu Beach.

a Prehistoric Journey Sangiran, Indonesia Cradle of Life


This museum is situated in Krikilan Village, Kalijambe, ± 3 Km from the main road of Solo – Purwodadi, occupying an area of 16, 675 m2 with building shaped in Traditional javanese architeture known as Joglo. The main place of this museum is exhibition hall where the fossils collections are kept.
•Laboratory, a conservation place for the fossils.
•Meeting Hall is mainly used for all activities in the museum
•Library is a place for keeping all book collections
•Store room is a chamber to keep the fossil collections.
There are 13. 806 pieces of fossil collections which are kept at two different locations, the 2.931 are preserved in the exhibition Hall and the other 10.875 are in the store room.
The collection preserved in the museum includes:
•Human Fossils: Australopithecus Africanus, Modjokertensis Pithecanthropus, Pithecanthropus Erectus, Pithecanthropus Soloensis, Homo Neanderthals of Europe, Asia Homo Neanderthal, and Homo Sapiens.
•Fossils of vertebrate animal (Vertebrates): Elephas Namadicus (Elephant), Stegodon Trigonocephalus (Elephant), Mastodon sp (Elephant), Bubalus palaeokarabau (Buffalo), Felis Palaejavanica (Tiger), Sus sp (Pig), Rhinocerous Sondaicus (Rhino), Bovidae (Cattle, Bull), Cervus sp. (Deer)
•Fossils of water animal: Crocodilus sp. (crocodile), fish, crab, shark teeth, Hippopotamus sp. (Hippo), Moluska (class of Pelecypoda and Gastropoda), Foraminifera, and Chelonia sp. (turtle).
•Stone: Rijang, Kalsedon dan Agate
•Fossil of marine plants: Diatomit
•Stone tools: Stone Tools: Flakes, Wood Chip, Wood Planing Tool, Perimbas Axes, Stone Balls, Penetak Axes.


This museum is located in the Sangiran area known as "Sangiran Dome", this area has fossils range from primordial men with their equipment, primordial animals or plants lived in the era. Stratigraphicaly, these sites are the most complete prehistoric site in Asia in which prehistoric live can be observed in a sequence without interruption since 2 million years ago during the era of last Pliosen to the end of middle Pleistosen.

White Sands Beautiful Sunset Scenery

Tirta Samudra beach or widely known as Bandengan Beach is located at 7 km at the northern part of the downtown of Jepara city. The beach is beautifully decorated with white sand and crystal clear water which can be a perfect place for swimming and other water sport.
This beach is oftenly visited by children, teenagers, and international visitors.The most wonderful time at this beach is during the sunset, where visitors can enjoy the beauty of the scenery. Visitors can sit and relax while enjoying the wind breeze and the fresh air touching their skin. The area of this object is quite large (+ 16 acres) and most of the area are filled with pandanus trees which are suitable for visitorsth activities such as camping, volley beach, riding bicycles or many other activities.
Moreover, this area is also famous due to the motor cross event and kite festival which is held regionally, nationally, or internationally.

The Dwelling Place of Gods Oldest Temples in Indonesia

Dieng Plateau is located at 2.093 above the sea level. It has fresh air with the temperature of 10 – 15o C. The word "Dieng" was derived from Sanskrit Language "Di" means high place and "Hyang" means heaven.
Altogether "Dieng" means mountainous area where gods and goddesses are residing. Besides, Dieng can also be translated to Javanese language "Adi tur Aeng", means beautiful and unique where it has specialty and difference than other places. The surrounding temples are recognized to be the oldest Hindu Temple in Indonesia.

Awesome Family Theme Park Meet Dinosaur Statue in Real Size

A recreation park inaugurated in September 1980, with an area of 27 acre, it has hundreds collection of rare plants that can be used as a research object, sculpture of dinosaur in the actual size, a play ground with various facilities, and the most recently it has a prototype of aircraft.
During the holiday season, this place serves the visitors with various local art performances. Not only play ground for kids and family, but this place also offers another facility as rafting of Progo Asri, intended to those like adventure and exploring the Progo river.

a Natural Healing Pond Miracle Pond in The Middle of Natural Beauty

Situated on the slopes of Mount Slamet with ± 1050 m altitude above sea level is about 40 kilometers from Tegal bus station towards Purworejo regency. This place is easy to be found and reachable by public transport or private vehicle. Guci is a bathing place with a refreshing geothermal hot springs. Not only that visitor can enjoy a hot bath but also tour in the surrounding forest.
You can feel the warmth of the water which is also believed to be able to cure diseases. The most visited place is a shower bath called pancuran 13 which has thirteen showers. One of the reasons why people visit Guci is because it is free of charge. Beside pancuran 13 there is also pancuran 7 where visitors can enjoy themselves in the hot water.
Visitors can see many villagers bathing for the purpose of seeking blessings from God and to cure some diseases such as rheumatism, sores, or other skin diseases in this location.
There are 10 waterfalls in Guci hot water bath. At the top of the public baths pancuran 13, around 1 kilometer, there are waterfalls with cold water named 'Jedor waterfall'.
It is named so because it used to be owned by head of the village whose name is Jador. Visitors can enjoy this beautiful waterfall and at the same time walking along the streets and see hundreds of pine trees and feel the fresh air.

ketep pass



Located at an altitude of 1,200 meters above the sea level, this area lies on about 8,000 m2 area. Visitors can enjoy the beauty of Mount Merapi, Mount Merbabu, Mount Sumbing Sindoro, Mount Tidar, Mount Andong, Mount Menoreh and agricultural areas. In order to reach this place, visitors can go through several routes; from Magelang, Boyolali, or Salatiga.
Not only that it has the most amazing views of several mountains in Central Java, visitors can also enjoy some facilities offered in this tourism site such as a large parking area, toilets, gazebo, praying room, volcano theater, souvenir shops, vegetables stalls, restaurants, museums, and Mount Merapi binoculars.

How to get here

Ketep Village, District of Sawangan, which is 17 km from the Blabak village to the East, 30 km from the downtown of Magelang, 35 km from Boyolali City and 32 km from the city of Salatiga.

Borobudur tample

Borobudur Temple
The world's largest Buddhist temple which is one of the masterpieces among the Seven Wonders of the World is located in the Borobudur Village, Borobudur district, approximatelly ± 3 km from Mungkid city. Borobudur was built by King Samaratungga, one of the kings of Ancient Mataram Kingdom, from the descendant of Wangsa Syailendra. Based on the Kayumwungan inscription, an Indonesian named Hudaya Kandahjaya revealed that Borobudur is a place of worship which was completely built on May 26th, 824 almost a hundred years since they first started the construction. According to several sources the name of "Borobudur" means as a mountain with terraces (budhara), while others says that it means monastery located on the high ground.
Borobudur temple was designed as staircase consistsing of 10 levels. Before Borobudur was renovated, the height of the temple was 42 meters and 34.5 meters after the reconstruction because the lowest level functioned as a barrier after being renovated. The six lowest square and top three circle and one of the highest levels of Buddhist stupa is facing to the West. Each level represents the stages of human life. In accordance with Mahayana Buddhism teaching, every person who wants to reach the level as the Buddha must passed through every level of human life. Kamadhatu, the lowest part of Borobudur (basement) symbolizing human beings that are bound by lust.
Whereas the other four levels above referred as Rupadhatu who symbolizes the ability of humanbeing to break free from his/her lust yet bound with manner and human form itself. On this terrace, the statue of Buddha is placed in an open space. Meanwhile, the other three levels above where the Buddhist stupas are laid in holes is called Arupadhatu, symbolizing humanbeing who has been freed from lust, appearance, and human form. The highest part is called Arupa symbolizes nirvana, where Buddha is residing

Mendut Temple
It is a Buddhist sacred place beside the Borobudur Temple. Mendut Temple is 4 km away from the Buddhism monastery. The temple has a Pyramid shaped roof and in which there is a statue of Buddha flanked by two statues.

Pawon Temple
Pawon Temple is located on the Brojonalan District in the Borobudur subdisdrict. This Buddhist temple used to be a place to keep the weapons of King Indera Vajranala, this story was based on the fact that were found in Karang Tengah inscription made on 824 AD. This temple was made of volcanic stone. From the perspective of the architecture, Pawon Temple is a combination of both ancient Javanese Hindu and Indian architecture.

The location of Pawon Temple is right on the axis line connecting the Borobudur and Mendut Temple. Besides the location of the temple, we can find many similarities on motives carved in the three temples are also prooved that there was relationship between those three Buddhist temples. Poerbatjaraka, argued that the Pawon temple is also known as Upa Angga (part of) the Borobudur

Masjid Agung Jateng

The Architecture of the building is a new combination which takes a model from guardians tradition by applying a universal style of Islamic architecture on its primary building and by showing it's main dome equipped with a pointed minaret, towering over the all four sides.
The feature of this mosque lies on the building which emulates the principles of a cluster model and the existence of 6 giant electric umbrellas for shading the pilgrims in the courtyard. These umbrellas can open or close automatically as those in Prophet's Mosque in Medina. MAJT has a tower of 99 M high which is called Al Husna Tower. There are museum and Islamic café inside by which they can rotate around 360 degrees.
There is also a telescope inside used to view beautiful scenery of Semarang. For those who want to relax, MAJT also provides some facilities, such as playground and mini-trains that bring visitors around the mosque.

Jawa Tengah Great Mosque (MAJT) is magnificent and spectacular building, with an area of 10 acres that can accommodate around 13 thousand pilgrims. This place is located at Jl. Gajah, East Semarang. Besides, this place is also equipped by complete facilities, such as, convention hall, souvenir shop, food stalls, office buildings, libraries, and accommodations. Phone: (62)24 6725411 / 6725412

Candi Sukuh dan Cetho

Sukuh Temple
This temple is located in western part of Lawu mountainside, about 910 m above the sea level. It was built in 15 or 16 century during Hindu Majapahit kingdom era. It has approximatelly 5,500 m2 of area. The main building has 910 height above sea level and almost similar with pyramid in Mexico.
The main gate is decorated with a giant head which symbolized reliefs of "Candra Sengkala." It represents the year of the temple founding. Beside the reliefs of candra Sengkala, there is also a small temple with erotic reliefs. Actualy it is a symbol of true life teaching and a series of relief that tells about Garudeya and Sudhamala story with liberation as its theme. This temple used to be a worship place and a place to have a religious ceremony religion but now days it is only use a meditation place. Sukuh temple located in Berjo village, Ngargoyoso district, we can go there by pedestrian public transportation from Karangpandan to Ngargoyoso (Sukuh Temple).

Cetho Temple
The temple is Located in Gumeng village, Jenawi district in the western part of Lawu mountainside. It stands on the hill with beautiful view and surrounded by tea plantation. This temple has its own speciality it is different with any other temple exixted in Central Java. In order to get to this temple, we must go to a high through tea plantation and forest. Cetho Temple is one of Hindu heritage which was build in the end era of Majapahit governance (15th century). The first scientific report was made by Van de Vlies in 1842. There is also A.J. Bernet Kempres who conducted research about this temple.

The first restoration was done for the first time in 1928 by department of archeology owned by Dutch government. Based on the condition when the ruins were found, the temple was built on relatively the same year as Sukuh Temple. Location of this temple is in Ceto village, Gumeng village, Jenawi District, Karanganyar Regency, 1400 m above sea level. Nowadays the temple complex is used by local Hindus people as worship place and it is also popular as meditation place for people who believe in Javanese religion/ Kejawen.

Wednesday, January 30, 2013

Sam Poo Kong temple in Semarang


Sam Poo Kong temple in Semarang
Sam Poo Kong Temple is a former haven and the first landing of a Muslim Chinese admiral named Zheng He / Cheng Ho. This place is located in the Simongan, southwest of Semarang city. Almost in the entire building's distinctive red shades of China building.


Because of less clear history, the Indonesian Chinese descent consider building was a temple because of Chinese architecture to look like a temple. Now the place was used as a memorial and a place of worship or a place for worship and pilgrimage. For this purpose, in the cave was placed a stone altar and statues of Sam Po Tay Djien. Though admiral Cheng Ho was a Muslim, but the Chinese consider him a god. This is understandable considering Confucianism or Tau considered a deceased person to provide aid to them.


Candi Gedong Songo in Semarang



Candi Gedong Songo located on the slopes of Mount Ungaran, precisely at District Ambarawa, Semarang regency and temple complex was built in the 9th century AD. This area has beautiful natural scenery. Around the site there is also a neat pine forests and springs that contain sulfur. The temple has similarities with Dieng temple complex in Wonosobo. The temple is situated at an altitude of about 1,200 m above sea level.



To go to Gedong I, we had to walk as far as 200 meters away through the path going up. You can use horse transport services for sightseeing attractions around the Candi Gedong songo.

On the sidelines of the Candi Gedong III to Gedong IV, there is a mountain kepunden as a source of hot water with a high sulfur content. The tourists can bathe in there to keep warm in a bathhouse built near the kepunden. Because of its beauty Candi Gedong Songo is often a wonderful place to take any pictures, traveled with family, pre wedding, and many more.

I hope that you do not throw litter in there, to keep the environment is still beautiful.

Location: 
  • GPS Waypoint: 7 ° 12'39 .72 "S (Latitude) 110 ° 20? 32.88" E (Longitude)
  • Google Map Reference (-7.211033,110.342467)


                                                                                            




Followers